sederet.com
Online Indonesian - English Dictionary
Sederet.com
separator

How To Say Die Politely

Saat mengetahui seorang kenalan atau teman kita mengalami kedukaan, entah kerabat dekat atau orang terdekatnya meninggal dunia, mengucapkan turut berduka cita merupakan suatu keharusan dalam hidup bermasyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kita berusaha berempati dengan kehilangan yang tengah dirasakannya.

Masalah muncul saat Anda berusaha menyampaikan rasa turut berduka cita tersebut. Seringkali timbul perasaan tidak nyaman mengucapkan kata “meninggal” secara langsung. Hal ini terjadi ketika Anda harus mengatakan “turut berduka cita atas meninggalnya si A” misalnya. Kata meninggal pada kalimat tersebut secara tidak sengaja akan menimbulkan kesan frontal dan hal ini tentu perlu dihindari karena ada kemungkinan menimbulkan rasa tidak nyaman di antara kedua belah pihak.

Oleh karena itu kalimat “turut berduka cita atas meninggalnya si A” seringkali berusaha dihaluskan dengan menggantinya menjadi “turut berduka cita atas berpulangnya si A”. Kata “berpulang” meggantikan kata “meninggal” karena dianggap lebih sopan. Hal ini juga akan sejalan dengan hukum alam yakni pada akhirnya manusia akan kembali pulang ke asalnya setelah diberikan kesempatan untuk menjalankan perannya di dunia.

Namun bagaimana jika penggunaan kata meninggal ini harus diucapkan dalam bahasa Inggris ? Hal yang sama juga nyata terjadi. Tidak hanya dalam bahasa Indonesia terjadi proses pelembutan bahasa. Bahasa Inggris pun punya teknik yang sama. Proses ini disebut dengan “Euphemisms” atau eufemisme.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan, sebagai contoh adalah kata “mati” digantikan kata “meninggal dunia”.

Menurut Verywellhealth terdapat beberapa kata dan frasa yang populer digunakan untuk menggantikan kata mati, meninggal dan sekarat. Verywellhealth juga menjelaskan kelebihan dan kekurangannya menggunakan metode eufemisme.

Eufemisme Populer untuk Kata Mati/Meninggal

Beberapa kata di bawah ini merupakan frasa dan kelompok frasa yang umum digunakan untuk merujuk pada kata mati/meninggal atau sekarat. Beberapa dari kata-kata di bawah ini memang dianggap lebih halus untuk mengekspresikan kata meninggal/mati, sementara beberapa kata lainnya merujuk ke kepercayaan tertentu tentang apa yang akan terjadi setelah seseorang meninggal dunia.

  • Passed, passed on, atau passed away (meninggal dunia)
  • Resting in peace, eternal rest, asleep (beristrahat dengan tenang, beristrahat selamanya, tertidur)
  • Demise (mangkat)
  • Deceased (mendiang, almarhum)
  • Departed, gone, lost, slipped away (mendiang, meninggal, yang hilang, bepergian)
  • Lost her battle, lost her life, succumbed (kalah berjuang, kehilangan nyawa, menyerah)
  • Gave up the ghost (meninggal dunia)
  • Kicked the bucket (meninggal dunia)
  • Didn’t make it (tidak berhasil)
  • Breathed her last (bernapas untuk terakhir kali)
  • Went to be with the Lord, went to Heaven, met his Maker (menuju ke hadirat Tuhan, menuju surge, bertemu dengan Sang Pencipta)
  • Was called home, is in a better place (dipanggil pulang, berada di tempat yang lebih baik)

Di bawah ini akan dijelaskan contoh penggunaan kata-kata di atas dalam sebuah kalimat :

  • Her son passed away a few months ago (Anak laki-lakinya meninggal dunia beberapa bulan lalu)
  • May she rest in peace (Semoga Ia beristirahat dengan tenang)
  • A teenage girl in the picture is her deceased sister (Seorang gadis remaja yang di foto adalah mendiang saudara perempuannya)

Eufemisme

Penggunaan eufemisme ini tentu dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Menurut Verywellhealth berikut ini adalah beberapa alasan tersebut yakni :

  • Sebagai Perlindungan

Penggunaan eufemisme untuk kata mati/meninggal dan sekarat seringkali dimaksudkan untuk melindungi seseorang, apakah seseorang yang mengucapkannya atau orang yang mendengar kata-kata tersebut. Kita boleh mencari cara yang lebih lembut untuk menyampaikan kabar kematian  pada seseorang atau sebuah cara yang memberikan kenyamanan  walaupun dalam situasi berduka

  • Menghindari Berlaku Kasar dan Menyinggung

Kita tentu ingin melindungi orang-orang di sekitar kita dengan tidak membuat keadaan berduka semakin menjadi karena menggunakan kata-kata mati/meninggal dan sekarat terkadang dapat menimbulkan interpretasi dan dirasakan lebih frontal dan kasar. Maka dari itu penggunaan eufemisme dipakai dalam hal ini.

  • Menghindari Ketidaknyamanan

Kematian dan sekarat merupakan bagian alami dari sebuah kehidupan, namun terkadang kedua hal tersebut membuat orang-orang tidak nyaman dan panik. Ragam bahasa lainnya mungkin akan lebih mudah digunakan dan tidak terlalu memprovokasi rasa kepanikan dan tidak nyaman.

  • Terkait Perasaan Berduka Kita Sendiri

Saat mengucapkan kata-kata yang langsung tentang kematian, si pembicara harus berurusan dengan perasaan berduka dan kehilangan yang juga dirasakannya. Menjelaskan pada orang lain bahwa seseorang yang dicintai “didn’t make it (tidak  berhasil / gagal berjuang untuk bertahan hidup) ” terkadang lebih mudah daripada mengatakan bahwa “Ia meninggal dunia”. Kematian adalah final dan mengatakannya dengan lantang tentu sulit saat kita sedang berjuang untuk menerima situasi tersebut.

  • Penyangkalan Sebagian

Menggunakan kata “dead (mati/meninggal dunia) ” membuat kita sulit menolak kenyataan yang ada. Secara psikologis, saat penyangkalan pada akhirnya harus berubah menjadi penerimaan, sedikit penyangkalan mungkin tidak terlalu buruk sebagai mekanisme penerimaan situasi jangka pendek. Bahasa yang tidak langsung terkadang dapat sangat membantu secara mental dan emosional dalam mengatasi perasaan Anda secara bertahap.

  • Memberikan Kenyamanan Spiritual

Bagi mereka yang percaya pada kepercayaan tertentu, penekanan dalam kematian adalah kehidupan setelahnya. Maka dari itu, mengatakan bahwa seseorang “went to with the Lord (menuju ke hadirat-Nya)” bukan merupakan taktik penghindaran sama sekali, namun lebih kepada pengingat akan kenyamanan yang ditemukan dalam kepercayaan tersebut.

Namun ada beberapa hal yang perlu dikecualikan dari penggunaan eufemisme ini seperti misalnya pada anak-anak, pada penderita demensia, dan dalam dunia kesehatan. Penggunaan eufemisme pada anak-anak tidak begitu direkomendasikan. Hal ini karena dapat membingungkan mereka. Anak-anak masih kurang dalam hal pengalaman hidup sehingga pemahaman mereka pun terbatas apalagi mengenai kematian.

Misalnya penggunaan kata “asleep (tertidur) ” dan “rest (beristirahat) ”, anak-anak akan mengartikannya secara harfiah. Sehingga jika orang dewasa membicarakan tentang kematian dengan merujuk pada “asleep” dan “rest”, bukan tidak mungkin anak-anak akan salah paham dengan mengartikannya dengan “tidur” yang sebenarnya, sehingga dikhawatirkan mereka malah takut akan malam hari ketika waktunya tidur.

Oleh karena itu disarankan penggunaan kata-kata yang langsung pada anak-anak untuk setidaknya menyiapkan mereka serta mendiskusikan dengan mereka tentang kematian.

Perlakuan yang sama juga harus diberikan pada penderita gangguan kognitif ringan, Alzheimer atau beberapa tipe penyakit demensia karena mereka mungkin tidak dapat memahami bahasa tidak langsung dengan baik.

Dalam dunia kesehatan terkadang para praktisi kesehatan juga menggunakan eufemisme untuk menyampaikan kabar buruk pada pasien atau keluarga pasien. Hal ini didasari keinginan untuk meredam sedikit efek yang akan ditimbulkan. Hal ini membantu bagi para beberapa anggota keluarga, namun tidak menutup kemungkinan ada anggota keluarga pasien atau pasien sendiri yang akhirnya tidak memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Menariknya sebuah studi yang dilakukan mengenai bahasa dan proses yang digunakan untuk menginformasikan pada keluarga tentang kondisi medis orang tersayang mereka menunjukkan bahwa anggota keluarga lebih memilih untuk punya pemahaman lebih akan seberapa sakitnya anggota keluarga mereka.

Rasa Simpati

Lalu bagamana Jika kenalan atau kerabat kita mengalami kedukaan ? Jika mengalami hal demikian maka jangan ragu untuk menunjukkan simpati dengan turut berduka cita. Tunjukkan rasa simpati Anda dengan rasa haru dan perhatian bagi yang tengah berduka. Yang terpenting adalah Anda peduli dengan orang yang tengah berduka tersebut dan bersedia kapan saja untuk memberikan dukungan.

Dalam bahasa Inggris ada beberapa kalimat yang dapat digunakan untuk menunjukkan rasa simpati bagi kenalan atau kerabat atau siapapun yang tengah mengalami kehilangan.

  • I’m sorry for your loss (Maaf atas kehilanganmu)
  • You are in my thoughts (Anda selalu berada dalam pikiranku)
  • This must be so hard for you (Ini pasti sangat berat untukmu)
  • Please accept my deepest condolences (Terimalah rasa belasungkawa saya)
  • He’s gone on to a better place (Dia telah menuju ke tempat yang lebih baik)
  • You and your family are in my prayers (Anda dan keluarga Anda selalu berada dalam doaku)

Hal sebaliknya jika kenalan atau kerabat Anda mengalami kehilangan, hal-hal berikut sebaiknya jangan dilakukan :

  • Jangan menolak kenyataan bahwa seseorang telah meninggal
  • Jangan menyangkal kenyataan jika seseorang yang sedang berduka sedang mengalami sakit emosional
  • Jangan menyangkal kenyataan bahwa kematian tersebut mungkin saja mengubah kehidupan setiap orang

Sebaiknya juga hindari penggunaan kalimat-kalimat berikut saat sedang berusaha menunjukkan rasa simpati pada seseorang yang sedang mengalami kedukaan :

  • I know how you are feeling (Saya tahu apa yang sedang Anda rasakan)

Kalimat di atas sekilas tampak memberikan kesan ikut merasakan empati. Namun tiap orang menyikapi perasaan berduka dan kehilangan berbeda-beda. Cara yang terbaik untuk menunjukkan rasa empati adalah dengan memastikan bahwa Anda akan memberikannya dukungan kapanpun dibutuhkan.

  • She/he is in a better place (Ia sekarang di tempat yang lebih baik)

Pastikan orang yang tengah berduka tersebut juga percaya dengan kehidupan setelah kematian. Namun jika tidak, maka pernyataan seperti di atas malah kesannya akan menyinggungnya.

  • How are you doing/holding up ? (Bagaimana keadaan Anda ?)

Bagi orang-orang yang sedang berduka jawaban kalimat pertanyaan di atas tentu “sedang merasa tidak baik-baik saja”. Jika Anda menanyakannya tidak menutup kemungkinan, bukannya terhibur, orang tersebut malah akan salah tingkah diberi pertanyaan yang jawabannya sepertinya sudah jelas.

  • Now you can start moving on with your life (Sekarang Anda bisa bergarak maju dengan hidup Anda)

Orang yang tengah berduka biasanya hanya butuh waktu dan tempat untuk merasakan dukanya. Dukung mereka dalam hal waktu dan tempat yang mungkin mereka butuhkan.

  • I don’t know what I would do if my family died (Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika keluargaku meninggal)

Mungkin saja kalimat di atas benar untuk Anda, namun hal tidak berlaku untuk setiap orang. Malah mungkin tidak memberikan efek kenyamanan apapun bagi yang orang lain yang sedang berduka. Faktanya, kalimat tersebut akan membuat orang yang sedang berduka akan semakin merasa terisolasi dalam kedukaannya. Sebaiknya pahamilah rasa kehilangan yang dirasakannya dan biarkan orang tersebut tahu bahwa Anda siap kapanpun jika Ia membutuhkan dukungan.

  • At least the death was quick so there wasn’t pain (Setidaknya kematiannya terjadi dengan cepat sehingga tidak merasakan sakit)

Kematian adalah sesuatu hal sulit, bagaimanapun caranya. Mungkin dengan mengatakan kalimat di atas Anda bermaksud untuk mengarahkan seseorang yang sedang berduka tersebut melihat sisi baiknya, namun terkadang seseorang yang sedang berduka butuh waktu untuk meratapi kehilangannya.

  • Don’t worry, you’ll feel better soon (Jangan khawatir, Anda akan segera merasa lebih baik)

Penting untuk memberikan waktu dan tempat bagi orang yang sedang berduka untuk membiarkan mereka merasakan apa yang sedang dirasakannya. Jangan menekan mereka yang sedang berduka untuk segera berhenti berduka.